Selasa, 24 Maret 2009

Arti Suruhan

Ata mengantar Dimma ke pondok makanan yang berada di tengah-tengah desa. Mereka menuju ke sana karena setalah mereka berkenalan perut Dimma tak mau dilupakan dan berbunyilah perut itu dengan sangat kencang mengingatkan kembali pada Dimma akan tujuan awal mengapa ia berkunjung ke desa ini.

Jalan yang mereka tempuh hanya dapat memuat dua pejalan kaki dan satu sepeda. Kiri-kanan jalan itu merupakan ladang yang luas. Ladang itu dipenuhi dengan buah-buahan dan sayur-mayur yang terlihat matang dan lezat.

”Ata,” Dimma memanggil, ”aku bisa mengerti mengapa buah-buahan itu tak boleh kupetik untuk kumakan, tetapi mengapa dedaunan di dalam keranjangmu itu kaularang kumakan?” tanya Dimma sambil memandang keranjang bawaan Ata.

Ata hanya menghela napas. Tampaknya ia tak akan menjawab, karena itu sudah merupakan pertanyaan sama yang Dimma utarkan untuk kelima kalinya. Anehnya, Dimma hanya tersenyum atas kelakuan Atta dan tersirat dari matanya bahwa ia tahu, Ata tidak menjawab bukan karena Ata sudah merasa kesal dengan dirinya.

Mereka teruslah berjalan. Dan yang mengherankannya adalah, kiri-kanan jalan sejauh mata memandang hanya berupa ladang tanaman berisi hanya tanaman tanpa petaninya. Flora bertumbuhan dimana-mana, warna-warni dan indah. Ya, perbedaan yang ada dari pemandangn flora Desa Arota merupakan gemerlap warna yang dipantulkan setiap ladang. Setidaknya itu lah yang membuat perjalanan menyursi ladang yang luas itu begitu menarik, tidak monoton dengan hanya menampakkan warna hijau.

Grasak-grusuk

Sebuah suara menangkap perhatian Dimma dan Ata. Suara itu berasal tepat di depan mereka, berasal dari sebuah goyangan gemersik rumputan tinggi yang merupakan ladang jagung. Dan apa yang membuat rerumputan itu gemersik?

”Kakak Ata,” sapa seorang anak lelaki yang keluar dari ladang jagung itu dan dialah pelaku yang membuat suara gemersik itu.

”Pito, pas kedatanganmu dik,” Ata menanggap dengan senyum hangat.

”Itukah?” tanya Pito sambil menoleh ke arah Dimma dengan wajah takjub.
Ata mengangguk kecil. Ia lalu berbicara pada Pito dengan bahasa lain, bahasa gunung yang memiliki kekhasan tersendiri dimana hanya diutarkan oleh penduduk Arota. Ata berbicara pelan dan sejelas-sejelasnya. Kata-kata yang dia pilih pun sangat rapih dan tepat untuk menyampaikan maksud dari kehendaknya. Sungguh sebuah bahasa khas dari Desa Arota. Bagaimana aku tahu? Tentu karena sebenarnya Dimma mengerti setiap kata yang terlontar dari mulut Ata. Walaupun tujuan Ata menggunakan bahasa gunung sudah jelas agar Dimma tidak mengerti. Apa daya, Dimma membalikkan badannya berpura-pura memandangi kembali luasnya ladang, padahal sebenarnya ia tak bisa menahan senyum geli yang berseri-seri di wajahnya.

”Mengerti Pito?” tanya Ata.

Pito mengangguk sekali memberi tanda yakin. Ia menengok dan bertemu tatap dengan Dimma. Wajahnya pun tersenyum.

”Baik kakak-kakak, aku duluan ya!” triak Pito sambil mengangkat kaki terbirit-birit seakan-akan dikejar setan. Pito membawa keranjang yang ia pikul seperti tas punggung berisi jagung-jagung yang begermelap warna emas. Dilihat dari belakang figur Pito berlari membawa jagung di keranjangnya seperti seorang maling emas batang yang mencoba kabur.

Dimma menatap Ata sembari memasang wajah heran yang sangat meyakinkan, Ia bertanya, ”Kau suruh apa dia?”

”Kau lihat saja nanti,” jawab Ata dengan intonasi yang membuat orang yang benar-benar tak tahu penasaran. Ia lalu melengos pergi dengan gerak-gerik yang berkata ikuti saja aku. Dimma pun mengekor begitu saja. Walaupun ia mengerti apa isi suruhan Ata pada Pito, tak terbayang di benaknya apa yang akan terjadi selanjutnya.

Minggu, 08 Maret 2009

1..Pencarian Penemuan Pertemuan Pertama


“Aku punya teman yang bengitu ramah dan murah senyum. Bila ia berada diantara kerumunan orang, pasti ada yang membedakan dia dari yang lain. Ia bagai sebuah sinar menyinari ruangan, senyumnya hangat serambi menampilkan barisan gigi yang berjejer rapih dan putih layaknya gading yang dipoles. Wajahnya mulus dan manis, diselimuti kulit cokelat berkilau hingga bisa membuat kau ingin memakannya. Wataknya ceria dan penuh tawa. Dan tawa itu pasti akan mendreu-deru mengema di pegunungan ini apabila ia membaca tulisan ini tentang dirinya. Sebuah fakta tentang temanku yang satu ini. Temanku yang sangat rendah hati dan tak pernah rendah diri.”


Hari bearasa sejuk dan tenang. Hiruk piruk tak terdengar, hanya ada lambaian sayu sang bayu. Langit dipenuhi awan putih yang gembul-gembul membuat sinar matahari berjatuhan lembut, hangat, namun tidak lah menyengat.


Di ujung mata memandang, di atas padang rumput yang hijau terbaringlah sebuah figur. Ia berbaju tipis dan compang-camping. Tertidur lelap tanpa berasa ada beban di dunia. Hal tersebut tercerminkan dari barang bawaannya tidaklah banyak dan barang-barang tersebut ia taruh begitu saja berserakan di sekitaran rumput ilalang. Ya, figur ini adalah seorang pemuda pengembara.


Sang bayu terus berhembus sepoi-sepoi, dan ia pun membawa suatu aroma mengejutkan. Sang pemuda pengembara itu tertegun mencium aroma tersebut. Bau apa ini? Enak sekali, pikirnya dalam hati. Berita itu tak lama kemudian terdengar oleh perut sang pengembara dan perut itu bertriak-triak minta diasupi makanan.


Sang pengembara akhirnya beranjak dari tidurnya dan berdiri. Ia mengambil dua buah tas bawaannya lalu mengenakan kembali topi camping bambunya. Sambil menghirup udara beraroma enak itu ia berjalan mengikuti arah sumber bau itu. Belum lama ia berjalan dan matanya menemukan pemandangan yang lebih mengejutkan daripada aroma enak itu. Di bawah bukit yang ia pijak terlihat sesuatu seperti pedesaan yang dumuntahi pelangi. Desa itu tampak kecil, indah tak karuan, dihiasi beragam warna yang berkilau serambi menggoda untuk dikunjungi. Lalu tanpa pikir panjang berkunjung ke desa itu merupakan pikiran sang pemuda compang-camping ini.


Ia menyusuri jalan setapak hingga sampai ke mulut desa. Ia mengharapkan sebuah gerbang penanda agar ia yakin bahwa Ia sudah memasuki desa tersebut. Ia menemukan sebuah penanda, akan tetapi yang Ia dapati adalah sesuatu yang tak begitu tampak seperti gerbang. Gerbang itu hanya berupa semak hijau setinggi tiga meter di sebelah kiri jalan dan semak unggu setinggi setengah meter di sebelah kanan jalan. Sungguh, bagiku sendiri membayangkannya saja merupakan pemandangan yang aneh.


Baru saja sang pemuda itu melangkah beberapa langkah dari gerbang semak itu, tiba-tiba didepannya seorang petani menyapanya.


”Wahai pengembara, selamat datang ke Desa Arota.” Sapa seorang petani perempuan berpipi tembem. Petani itu setinggi pipi sang pengembara, mengenakan pita di kepala dan memiliki rambut hitam yang lurus terurai. Ia membawa keranjang berisi beragam jenis sayuran.


Pemuda itu menampilkan wajah terkejut dan penuh heran sambil mengamati wajah perempuan yang baru menyapanya.


”Maap, bolehkan kutahu namamu?” sambut petani perempuan itu dengan hangat.


”Saya hanya seorang pengembara, maka dari itu bolehkah saya mengetahui dulu namamu?” Pemuda compang-samping itu bertanya kembali sambil membungkuk serambi menanggalkan topi campingnya.


Bisa kubilang bahwa pertemuan ini penuh dengan kejut, karena saat pemuda itu bertanya sang petani perempuan itu yang tertegun. Lau ia menampilkan kembali senyum hangatnya dan berkata, ”Oh, maap atas ketidaksopananku. Namaku Artavita dan kau boleh memanggilku Ata."


Pemuda itu bangkit kembali berdiri tegak dan menjawab, ”Namaku Dimma, dan aku paling suka dipanggil Dimma.”


***