Ata mengantar Dimma ke pondok makanan yang berada di tengah-tengah desa. Mereka menuju ke sana karena setalah mereka berkenalan perut Dimma tak mau dilupakan dan berbunyilah perut itu dengan sangat kencang mengingatkan kembali pada Dimma akan tujuan awal mengapa ia berkunjung ke desa ini.
Jalan yang mereka tempuh hanya dapat memuat dua pejalan kaki dan satu sepeda. Kiri-kanan jalan itu merupakan ladang yang luas. Ladang itu dipenuhi dengan buah-buahan dan sayur-mayur yang terlihat matang dan lezat.
”Ata,” Dimma memanggil, ”aku bisa mengerti mengapa buah-buahan itu tak boleh kupetik untuk kumakan, tetapi mengapa dedaunan di dalam keranjangmu itu kaularang kumakan?” tanya Dimma sambil memandang keranjang bawaan Ata.
Ata hanya menghela napas. Tampaknya ia tak akan menjawab, karena itu sudah merupakan pertanyaan sama yang Dimma utarkan untuk kelima kalinya. Anehnya, Dimma hanya tersenyum atas kelakuan Atta dan tersirat dari matanya bahwa ia tahu, Ata tidak menjawab bukan karena Ata sudah merasa kesal dengan dirinya.
Mereka teruslah berjalan. Dan yang mengherankannya adalah, kiri-kanan jalan sejauh mata memandang hanya berupa ladang tanaman berisi hanya tanaman tanpa petaninya. Flora bertumbuhan dimana-mana, warna-warni dan indah. Ya, perbedaan yang ada dari pemandangn flora Desa Arota merupakan gemerlap warna yang dipantulkan setiap ladang. Setidaknya itu lah yang membuat perjalanan menyursi ladang yang luas itu begitu menarik, tidak monoton dengan hanya menampakkan warna hijau.
Grasak-grusuk
Sebuah suara menangkap perhatian Dimma dan Ata. Suara itu berasal tepat di depan mereka, berasal dari sebuah goyangan gemersik rumputan tinggi yang merupakan ladang jagung. Dan apa yang membuat rerumputan itu gemersik?
”Kakak Ata,” sapa seorang anak lelaki yang keluar dari ladang jagung itu dan dialah pelaku yang membuat suara gemersik itu.
”Pito, pas kedatanganmu dik,” Ata menanggap dengan senyum hangat.
”Itukah?” tanya Pito sambil menoleh ke arah Dimma dengan wajah takjub.
Ata mengangguk kecil. Ia lalu berbicara pada Pito dengan bahasa lain, bahasa gunung yang memiliki kekhasan tersendiri dimana hanya diutarkan oleh penduduk Arota. Ata berbicara pelan dan sejelas-sejelasnya. Kata-kata yang dia pilih pun sangat rapih dan tepat untuk menyampaikan maksud dari kehendaknya. Sungguh sebuah bahasa khas dari Desa Arota. Bagaimana aku tahu? Tentu karena sebenarnya Dimma mengerti setiap kata yang terlontar dari mulut Ata. Walaupun tujuan Ata menggunakan bahasa gunung sudah jelas agar Dimma tidak mengerti. Apa daya, Dimma membalikkan badannya berpura-pura memandangi kembali luasnya ladang, padahal sebenarnya ia tak bisa menahan senyum geli yang berseri-seri di wajahnya.
”Mengerti Pito?” tanya Ata.
Pito mengangguk sekali memberi tanda yakin. Ia menengok dan bertemu tatap dengan Dimma. Wajahnya pun tersenyum.
”Baik kakak-kakak, aku duluan ya!” triak Pito sambil mengangkat kaki terbirit-birit seakan-akan dikejar setan. Pito membawa keranjang yang ia pikul seperti tas punggung berisi jagung-jagung yang begermelap warna emas. Dilihat dari belakang figur Pito berlari membawa jagung di keranjangnya seperti seorang maling emas batang yang mencoba kabur.
Dimma menatap Ata sembari memasang wajah heran yang sangat meyakinkan, Ia bertanya, ”Kau suruh apa dia?”
”Kau lihat saja nanti,” jawab Ata dengan intonasi yang membuat orang yang benar-benar tak tahu penasaran. Ia lalu melengos pergi dengan gerak-gerik yang berkata ikuti saja aku. Dimma pun mengekor begitu saja. Walaupun ia mengerti apa isi suruhan Ata pada Pito, tak terbayang di benaknya apa yang akan terjadi selanjutnya.
Selasa, 24 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
pewee.. gue link yaa
Posting Komentar