Minggu, 08 Maret 2009

1..Pencarian Penemuan Pertemuan Pertama


“Aku punya teman yang bengitu ramah dan murah senyum. Bila ia berada diantara kerumunan orang, pasti ada yang membedakan dia dari yang lain. Ia bagai sebuah sinar menyinari ruangan, senyumnya hangat serambi menampilkan barisan gigi yang berjejer rapih dan putih layaknya gading yang dipoles. Wajahnya mulus dan manis, diselimuti kulit cokelat berkilau hingga bisa membuat kau ingin memakannya. Wataknya ceria dan penuh tawa. Dan tawa itu pasti akan mendreu-deru mengema di pegunungan ini apabila ia membaca tulisan ini tentang dirinya. Sebuah fakta tentang temanku yang satu ini. Temanku yang sangat rendah hati dan tak pernah rendah diri.”


Hari bearasa sejuk dan tenang. Hiruk piruk tak terdengar, hanya ada lambaian sayu sang bayu. Langit dipenuhi awan putih yang gembul-gembul membuat sinar matahari berjatuhan lembut, hangat, namun tidak lah menyengat.


Di ujung mata memandang, di atas padang rumput yang hijau terbaringlah sebuah figur. Ia berbaju tipis dan compang-camping. Tertidur lelap tanpa berasa ada beban di dunia. Hal tersebut tercerminkan dari barang bawaannya tidaklah banyak dan barang-barang tersebut ia taruh begitu saja berserakan di sekitaran rumput ilalang. Ya, figur ini adalah seorang pemuda pengembara.


Sang bayu terus berhembus sepoi-sepoi, dan ia pun membawa suatu aroma mengejutkan. Sang pemuda pengembara itu tertegun mencium aroma tersebut. Bau apa ini? Enak sekali, pikirnya dalam hati. Berita itu tak lama kemudian terdengar oleh perut sang pengembara dan perut itu bertriak-triak minta diasupi makanan.


Sang pengembara akhirnya beranjak dari tidurnya dan berdiri. Ia mengambil dua buah tas bawaannya lalu mengenakan kembali topi camping bambunya. Sambil menghirup udara beraroma enak itu ia berjalan mengikuti arah sumber bau itu. Belum lama ia berjalan dan matanya menemukan pemandangan yang lebih mengejutkan daripada aroma enak itu. Di bawah bukit yang ia pijak terlihat sesuatu seperti pedesaan yang dumuntahi pelangi. Desa itu tampak kecil, indah tak karuan, dihiasi beragam warna yang berkilau serambi menggoda untuk dikunjungi. Lalu tanpa pikir panjang berkunjung ke desa itu merupakan pikiran sang pemuda compang-camping ini.


Ia menyusuri jalan setapak hingga sampai ke mulut desa. Ia mengharapkan sebuah gerbang penanda agar ia yakin bahwa Ia sudah memasuki desa tersebut. Ia menemukan sebuah penanda, akan tetapi yang Ia dapati adalah sesuatu yang tak begitu tampak seperti gerbang. Gerbang itu hanya berupa semak hijau setinggi tiga meter di sebelah kiri jalan dan semak unggu setinggi setengah meter di sebelah kanan jalan. Sungguh, bagiku sendiri membayangkannya saja merupakan pemandangan yang aneh.


Baru saja sang pemuda itu melangkah beberapa langkah dari gerbang semak itu, tiba-tiba didepannya seorang petani menyapanya.


”Wahai pengembara, selamat datang ke Desa Arota.” Sapa seorang petani perempuan berpipi tembem. Petani itu setinggi pipi sang pengembara, mengenakan pita di kepala dan memiliki rambut hitam yang lurus terurai. Ia membawa keranjang berisi beragam jenis sayuran.


Pemuda itu menampilkan wajah terkejut dan penuh heran sambil mengamati wajah perempuan yang baru menyapanya.


”Maap, bolehkan kutahu namamu?” sambut petani perempuan itu dengan hangat.


”Saya hanya seorang pengembara, maka dari itu bolehkah saya mengetahui dulu namamu?” Pemuda compang-samping itu bertanya kembali sambil membungkuk serambi menanggalkan topi campingnya.


Bisa kubilang bahwa pertemuan ini penuh dengan kejut, karena saat pemuda itu bertanya sang petani perempuan itu yang tertegun. Lau ia menampilkan kembali senyum hangatnya dan berkata, ”Oh, maap atas ketidaksopananku. Namaku Artavita dan kau boleh memanggilku Ata."


Pemuda itu bangkit kembali berdiri tegak dan menjawab, ”Namaku Dimma, dan aku paling suka dipanggil Dimma.”


***

Tidak ada komentar: